Prigen, Kawasan Peranginan Yang menarik di Pandaan


Sebenarnya kemarin tidak sengaja untuk pergi ke pandaan, salah satu kota di kabupaten Malang. Adzan dzuhur baru saja berkumandang dan saya punya temu janji bersama salah satu temanku yang pernah kursus di Pare, namanya Mbak Sukma dan ia tinggal di Malang. Sudah sampai malang, sangat rugi jika tidak sekalian silaturahmi dengan sahabat lama.

Kami janjian di Cyber mall, sebuah Mall yang dulunya bernama Dieng Plaza. Jam satu aku melihat ia datang dengan mengenakan baju Pink, penampilannya yang imut meski sudah bersuami mengingatkan segala kelucuannya sewaktu menjadi roommate di griya kemuning. Mencari temat ngopi asyik sambil ngobrol ngalor ngidul seru. Mbak suma adalah seorang guru, pengalaman mengajarnya patut diacungi jempol, ia pernah menjadi salah satu relawan guru di Papua, province bagian timur Indonesia yang ingin sekali saya jejaki suatu saat nanti.



Setelah selesai, Febri mengajakku ke Pandaan, kota kelairannya. Saya mengiyakan, toh…tinggal di kosan paling Cuma tidur atau nonton drama korea, lebih baik jalan-jalan lihat penjuru kota malang. Dari Dieng diperlukan waktu kurang lebih satu setengah jam untuk sampai Pandaan. Sepanjang dieng hingga Singosari kami terjebak macet, menambah perjalanan semakin lama.

Keluar dari singosari, pemandangan semakin bagus. Di kanan dan kiri jalan bisa meihat pemandangan perbukitan hijau. Untung saja langit cerah, beberapa hari tinggal di malang selalu hujan di setiap sore. Setelah menempuh perjalanan satu jam lebih, kami sampai di kawasan Sukarejo, sebuah kawasan yang dipenuhi beberapa pabrik air kemasan dalam botol seperti Club, Cleo dan Aqua.

Tak jauh dari kawasan itu, kami memasuki kawasan wisata Ciputra, kawasan wisata modern yang asri dengan rindangnya hutan pinus. Kami hanya berjalan-jalan sebentar untuk melihat pemandangan serta bangunan-bangunan cantik berupa butik-butik cantik dan aneka restaurant.



Lalu kami melanjutkan perjalanan, berbelok ke kawasan masjid china Muhammad Cheng Ho, sebuah masjid dengan arsitektur china. Masjid ini menjadi masjid yang banyak dikunjungi wiasatawan terbukti dari ramainya bis-bis pariwisata yang berhenti di pelataran masjid. Selain ada masjid, di kawasan ini juga ada pasar yang desainnya hampir seperti masjid, penuh dengan arsitektur bangunan china berwarna merah dan hijau. Setelah puas mengamati keunikan bangunan masjid, kami melanjutkan kembali perjalanan, kali ini ke kawasan Prigen di kaki gunung Tretes.




Perjalanan mendaki dengan pemandangan hijau di kanan kiri membuat perjalanan semakin seru. Di sisi kanan kiri, bangunan rumah dari perkampungan penduduk terlihat saling tumpang tindih, kabut nipis terlihat semakin menutupi pegunungan. Di sebelah kanan adalah gunung arjuno, dan di depan kami adalah gunung Tretes.

“Di sini biasanya ramai pengunjung yang ingin Jajan” kata temanku ketika melintasi deretan villa-villa dan hotel. Hampir sepanjang jalan di kanan dan kirinya adalah bangunan villa untuk disewakan.

Mendengar kata jajan, telinga saya sudah tidak asing lagi. Di kawasan peranginan, hotel dan pelacuran sudah tidak asing lagi, ia seperti perpaduan lengkap apalagi di kawasan ini dibangun berbagai macam pabrik, tentu banyak investor baik dalam negeri maupun luar negeri yang melakukan kunjungan kerja.

“wisatawan jepang dan china” tambahnya,

Sampai di kawasan atas, di daerah hotel Surya, pemandangan masih sama, di sisi kanan dan kiri kami banyak melihat bangunan villa dan hotel. Menyusuri gang-gang jalan yang berbukit ini seperti menyusuri jalanan di salah satu daerah Blue Mountain, Sydney. Pemandangan hijau dari gunung serta villa dengan taman-taman hijau nan luas di sekitarnya.


Karena sudah sore, kami kembali turun. Banyak para penjaja makanan di kawasan depan hotel Surya. Febri bilang, kawasan ini semakin ramai kalau malam hari, banyak penjaja makanan baik warung kopi maupun penjual gorengan. Tempat ini juga menjadi tempat Febri dulu untuk menikmati jagung bakar.


Ada beberapa penjual durian, kami singgah sebentar. Setelah tawar menawar, akhirnya kami menadapatkan harga yang lumayan murah, tiga biji mendapat harga Rp 50.000.

Plagiat Sebagai Cara Melawan Kapitalisme Pendidikan

Langkahku terayun, menyusuri jalan sepanjang jalan Brawijaya. Di kiri dan kanan jalan sudah dipenuhi aneka toko yang menjual berbagai barang, Mulai dari warung makan, supermarket, toko baju hingga toko buku.

 Di pertigaan jalan yang membagi ruas jalan ke arah Jombang, Kediri kota dan kampung Inggris terdapat sebuah toko buku besar, Berkah. Pada gang selanjutnya, ada juga toko buku di jalan Anyelir, toko buku berkah. masih di jalan Anyelir, berdekatan dengan lembaga kursus mahesa juga terdapat toko buku besar, Berkah. di jalan Brawijaya, sebelah swalayan Dhia, ada sebuah toko buku, Basmala.

Banyak sekali toko buku di area kampung inggris. Semakin banyak pelajar yang berdatangan ke kampung inggris, maka semakin banyak pula toko buku yang berdiri. buku yang dijualpun beraneka ragam. Tidak hanya menjual buku-buku berbahasa inggris, tapi juga buku lainnya. Buku panduan agama, Fiksi, terjemahan dan lainnya. selain itu, ada juga buku-buku bekas berbahasa inggris yang lebih banyak dicari pelajar untuk meningkatkan skill membaca buku berbahasa inggris.

Kebutuhan membaca sekaligus nilai ekonomis menjadi alasan utama toko-toko buku ini digandrungi pelajar. Tidak penting seperti apa kualitas buku, entah itu buram, terkadang halaman double, halaman hilang sampai halaman kosong, yang penting adalah bisa memiliki buku dengan harga yang lebih murah.

Pernah salah seorang tutor menjelaskan, kenapa di lembaga kursus yang begitu besar menggalakkan plagiatisme yang nyata-nyata melanggar Undang-undang hak cipta dan juga merugikan penulis. Ia mengatakan bahwa, "Begitulah cara kami melawan kapitalisme pendidikan, jika harga buku mahal maka, tidak ada yang mau membeli buku untuk kegunaan belajar"

Buku



Part 1-Hati Yang Luluh

Hati yang luluh
Matahari belum sempurna menampakkan sinarnya di peraduan langit ketika Lastri mengeluarkan sepeda motor tua kepunyaanya. Warnanya hijau dengan cat hitam yang sudah terkelupas karena terlalu sering di bawa ke berbagai tempat, terkadang di bawa ke sawah jika sedang musim tanam dan musim panen padi, jagung maupun cabe. Terkadang di bawa ke tempat penggalian pasir dan batu granit tidak jauh dari kampung halamannya jika orang sedang tidak menggunakan jasanya di sawah. Dan Honda tua itu lebih sering digunakan untuk mengantar kedua anaknya ke sekolah di desa tidak jauh dari tempat ia tinggal.

Apan mendi, lastri?” Tanya tetangga rumah yang ia jumpai di sepanjang jalan menggunakan bahasa jawa khas wonosobo. Warga kampung sangat ramah-ramah, jika berpapasan dengannya di jalan saling menegur, terkadang berhenti untuk bersalaman dan sesekali ngobrol sambil bergosip. Masih mengenakan jaket tebal lalu menyampirkan sarung di bahunya bagi kaum lelaki, mereka bergerombol di depan rumah sambil mengisap rokok yang mereka buat sendiri menggunakan kertas Garret serta tembakau serta campuran kayu manis hasil dari pertanian mereka.

Apan tuku megana, Yu” jawab Lastri sambil menunjuk warung penjual nasi megono, nasi khas kota wonosobo yang dijual pada pagi hari. Yaitu sejenis nasi yang dikukus bersama aneka sayuran, biasanya menggunakan sayur kubis dan ikan teri dipadukan dengan kelapa. Pada umumnya, masyarakat wonosobo  makan nasi megono bersama Tempe mendoan, tempe goreng dengan balutan tepung gandum dan ditabur daun kucai.

Lastri tidak menyukai untuk berlama-lama jika pergi ke warung. Setelah mendapatkan apa yang ingin dibelinya, ia pun segera pamit undur diri dari orang yang ditemuinya di jalan untuk segera pulang dengan alasan kedua anaknya menunggu untuk sarapan sebelum berangkat sekolah.

Dulu, mungkin tidak terlalu malu untuk berbaur bersama warga kampungnya mengingat usianya saat remaja ia menjadi remaja yang aktif di berbagai kegiatan desa. Menjadi aktivis remaja masjid, panitia pengajian setiap  Ahad Pond an berbagai jenis kegiatan keremajaan lain di kampungnya. Namun, setelah menjadi ibu rumah tangga, ia mulai membatasi diri untuk turut serta di kegiatan masyarakat.

Di jalan menuju pulang, ia kembali bertemu dengan Mas Warsito. Lelaki berusia 40 tahunan yang akhir-akhir ini sering ditemuinya. Ia adalah salah satu agent penyalur tenaga kerja ke luar Negeri baru-baru ini. ia suka sekali berbicara menggunakan bahasa Indonesia sambil memegang handphone di tangannya, terkadang pula sibuk menelfon menggunakan bahasa Indonesia yang medok dan suara yang nyaring, mungkin ia tidak tahu bagaimana cara mengsetting volume benda pipih itu. 

Pekerjaannya terlihat mentereng di mata masyarakat yang kebanyakan adalah petani. Ia selalu berpakaian rapi, celana katun hitam dengan baju batik serta file berwarna coklat mengapit di bawah ketiaknya.

“Aku baru saja dari rumahmu, Lastri. Tapi kamu tidak ada “ ungkapnya,

“Ada apalagi ya, Mas  Sito? Apa ada dokumen yang belum lengkap ?”

“Besok kamu harus wawancara di imigrasi sekalian foto. saya jemput kamu jam Sembilan, biar enggak terlalu lama antrinya”

“Baik, Mas”

“Ya sudah, Cuma mau ngasih tahu itu, jangan lupa besok, ya”

Lastri mengangguk dan mempersilahkan Mas Warsito berjalan. Ia bernafas lega karena tidak ada satu orangpun yang mendengar percakapan mereka kali ini. ia berharap kepergiannya untuk menjadi tenaga kerja Indonesia di luar negeri tidak ada yang tahu, terlebih orang-orang di kampungnya.
----------

Keesokan harinya, motor Mio berwarna biru tua milik Mas Warsito berhenti di pelataran rumah Lastri di ujung desa. Ibunya yang sedang menjemur pakaian tergopoh-gopoh menyambut Mas Warsito,

“Monggo, Mas” ungkapnya sambil mempersilahkan tamunya masuk. Ia menepuk-nepuk kursi rotan tua yang berabu, perabotan di rumahnya tidak ada yang mewah kecuali TV 14 inch di meja tengah, tempat anak-anaknya menonton acara televise. Selebihnya, hanya bangunan dengan alas tanah serta berpagar kayu dengan tiga ruang kamar, dapur serta ruang tamu.

Lastri keluar dari kamar, mengenakan kemeja bunga-bunga warna putih yang masih kelihatan cantik. Ibunya dari dapur membawakan dua cangkir teh panas,

Monggo, wunjuk riyen” Ibunya meletakkan cangkir the di atas meja, mempersilahkan Mas Warsito untuk minum.

Lastri mengambil duduk di hadapan Mas Warsito,

“Lastri, ketika kamu diwawancara, tolong kamu jawab dengan tegas dan jangan gugup, ya?”

Lastri mengangguk, “bilang kalau kamu ingin mengunjungi saudara kamu di Malaysia, di dalam berkas kamu juga sudah saya lampirkan surat undangan serta identitas orang yang bertanggung jawab atasmu selama tinggal di sana” jelas Mas Warsito yang dijawab dengan anggukan.

Ini adalah kali pertama bagi Lastri  untuk mendaftarkan diri sebagai TKI di luar negeri. Rencananya, ia akan ditempatkan di Malaysia. Ia memilih sendiri, dengan alasan karena Malaysia masih dekat dengan Indonesia.  Selain itu, bahasa yang digunakan juga tidak jauh beda dengan bahasa Indonesia. Lain dengan Negara Hongkong, Singapore maupun Taiwan, meski sebelumnya calon TKI akan mendapatkan pendidikan baik berupa bahasa dan cara kerja, namun, tetap saja Lastri tidak akan memilih resiko yang lebih besar dengan memilih tiga Negara tersebut meski di Malaysiapun belum tentu terjamin keselamatannya juga.

Sebenarnya, di Malaysia ia masih belum begitu yakin, apakah ia akan mendapatkan majikan yang baik atau tidak. Menjadi Calon tenaga kerja di luar negeri sama saja dengan meraba nasib diri. Apakah waktu kontrak selama dua tahun pertama itu akan berjalan baik atau tidak masih belum tergambar di kepalanya.

Saat ia memutuskan menjadi calon tenaga kerja Indonesia kepada ibunya, Ia mendapatkan tantangan keras. Ibunya tidak setuju dengan alasan apapun. Di  kampungnya, jarang sekali orang pergi ke luar negeri untuk bekerja. Pernah ada satu - dua orang yang bekerja di Malaysia dan Singapore, saat pulang justru badan sudah seperti mumi hidup dengan balutan perban sepanjang tubuh. Ada juga yang rumah tangganya berantakan karena di luar negeri perempuannya berselingkuh. Belum lagi kehidupan anak-anaknya yang kacau, anaknya yang masih berusia kecil menjadi maling dan lagi-lagi karena kurangnya pendidikan dari orang tua yang sering dianggap sebagai penyebab kerusakan anak-anaknya.

Namun, dengan lemah lembut, Lastri mencoba merayu dengan berbagai alasan. Kedua anaknya pandai dan memerlukan biaya agar bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, ia juga ingin membayar hutang yang ditinggalkan oleh mantan suaminya. Ia berharap agar kepergiannya ke luar negeri bisa mengubah kehidupan ekonomi keluarganya yang pontang-panting.

Pada akhirnya, ibunya luluh. Ia diijinkan, namun masih perlu meminta ijin kedua anaknya lagi. Ah…anak-anak,bukankah lebih mudah dibujuk dengan berbagai rayuan. Pada awalnya memang akan menangis, namun di hari-hari berikutnya mereka akan luluh dan menerima

Toleeransi Celana Dalam

Setelah membaca postingan salah satu anggota #ODOP yaitu Mbak Sabrina, kali ini saya akan menuliskan tentang Toleransi celana dalam.

Indonesia adalah Negara yang beragam, baik dari suku, bahasa dan juga agama. Ada 300 kelompok etnik yang mendiami bumi Indonesia dengan keanekaragaman bahasa serta kepercayaan yang dianut, meski Bangsa Indonesia sendiri hanya mengakui lima agama, yakni Islam, Kristen, hindu, budha, katholik dank arena asebuah toleransi, kali ini pemerintah memberikan kelonggaran untuk mengosongkan kolom agama jika agama yang dianut tidak diakui oleh pemerintah Indonesia.

Banyak sekali Negara-negara yang gagal menjalankan perannya sebagai tempat bernaung yang nyaman bagi penduduknya karena tidak lagi mampu mengatasi keberagaman penduduknya. Pertumpahan darah, perpecahan, ketakutan serta pemaksaan untuk mengikuti pemerintah otoriter di Negaranya masing-masing.

 Saya pernah membaca salah satu buku travelog lama yang ditulis oleh sastrawan  Wan Hashim Wan Teh yang menuliskan perjalanannya menuju Rusia. Judulnya adalah “Hatiku menangis di Bukhara”, sebuah tulisan perjalanan menuju Moscow untuk sebuah penelitian. Ketika penulis sedang berada di berada di Bukhara, di mana penduduk muslimnya mencapai 70%, namun ibadah tidak boleh dilakukan secara terang-terangan, sekolah agama juga harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Sebagai penduduk Indonesia, sepatutnya kita bersyukur. Segala keragaman yang ada tidak membuat negaranya terpecah belah dan saling tumpah darah. Masih ada toleransi kerukunan dan saling menghormati antar umat beragama. Masih ada pancasila sebagai dasar pemersatu, ada semboyan Bhineka Tunggal Ika yang selalu menjadi dasar sifat Nasionalisme persatuan dan kesatuan.

Namun, akhir-akhir ini, sikap toleransi sepertinya gagal ditempatkan pada tempatnya, lebih-lebih jika menyangkut hal agama. Entah karena manusia yang sudah mulai lupa akan ajaran Tuhannya, menepikan agamanya atau sememangnya sudah tidak memerlukan agama lagi. Saya menyebutnya Toleransi celana dalam, toleransi yang salah tempat.

Tentang lafadz kalimah Allah yang terdapat di salah satu produk panci seperti yang dijabarkan oleh Mbak Sabrina adalah salah satu contoh bahwa manusia sudah tidak meletakkan lagi nilai-nilai kesucian beragama umat lain. Selain panci tentu masih banyak lagi produk-produk yang sering kita temui melalui berbagai artikel yang disebarkan baik oleh media cetak maupun media online.

Ketika kita, khususnya sebagai muslim yang merasa bahwa tindakan pembuat produk tersebut adalah penistaan suatu agama, banyak sekali yang menentang dan juga membela. Jika sang pembuat produk adalah Nonmuslim, maka banyak yang mengatakan karena “mereka tidak mengerti “ ada juga, “karena tidak semua orang Indonesia adalah muslim, saha-sah saja berkreasi”. Ini model kreasi gundulmu!

Sikap toleransi yang memberikan kebebasan orang lain atau umat lain berkreasi sah-sah saja, tapi jangan sampai melukai kesucian agama orang lain, apalagi kalimah Allah adalah hal yang sangat sensitive, sama seperti ketika kesucian Yesus maupun Budha yang mereka sembah dicalar-calar. Sebagai umat muslim, sememangnya harus turut menyuarakan. 

Sore Bersama Kang Fuad

Aku memanggilnya Kang Fuad, terkadang Fat namun lebih sering kupanggil sebagai Mas Bro karena pertemuan kami sangat jarang dan lebih sering melalui pesan singkat baik melalui Whatsapp maupun sms. Dia adalah teman sekolahku sejak MTs maupun SMA. Saat di MTs, ia satu tahun lebih atas dariku, lalu ia istirahat setahun sebelum melanjutkan ke SMA. Ia lalu melanjutkan di SMA yang sama. Saat kelas satu, cowok dan cewek  duduk di kelas yang berbeda. Setelah naik kelas, barulah kami digabungkan karena sudah penjurusan.

Aku masuk kelas IPA sementara ia masuk IPS, semua dipilihkan oleh guru berdasarkan kemampuan nilai akademik di kelas sebelumnya meski sebelumnya siswa diberi kebebasan untuk memilih jurusan apa yang mau diambil. Atas pertimbangan yang matang, akhirnya aku mengikuti saran guru, yaitu masuk kelas IPA. Sementara Fuad, ia menjadi pelajar pemberontak. Meski guru mempercayai agar ia masuk IPS, namun ia nekat masuk ke IPA, maka ia sering dijuluki sebagai siswa pengusiran, namun ia tetap percaya diri, ia tetap duduk di bangku kelas IPA, bahkan sering juga dibercandain sama wali kelas.

Namun, lama-lama kelas tetap berjalan normal, bahkan keberadaan kang Fuad menjadi penambah seru kelas. Saat itu, di kelas hanya ada enam cewek, sementara 10 orang lainnya adalah cowok. Tentu keadaan itu tidak berimbang sekali. Namun, tetap aja seru. Dia bersama dua temannya menjadi geng paling rame dan suka bolos. Suka usil, kalau tertawa paling keras. Pokoknya, kehidupan di kelas IPA saat itu menjadi sangat seru dengan kedatangan dia bersama dua temannya yang rame.

Dulu sih, saat masih SMA, jarang sekali untuk ngobrol bersamanya. Cewek dan cowok jarang sekali ngobrol berduaan, paling ngobrolnya secara bergerombol. Saling menyapa juga paling pas dia mau pulang kampung maupun aku yang pulang kampung. Karena kami tinggal satu kampung, maka kami menjadi manusia dengan system hidup simbiosis mutualisme, tentu saja untuk urusan keuangan saja, dia minta kiriman uang, maka ia akan bilang ke aku, begitu sebaliknya. Namun, ada hal yang paling bikin jengkel, saat itu ada kegiatan wisuda dan dia yang pulang kampung untuk memberi kabar ke rumah. Eh, dia malah salah ngasih informasi, seharusnya yang datang adalah seluruh orang tua murid baik cowok maupun cewek, namun ia Cuma bilang hanya wali murid cewek, jadilah bapakku hanya datang seorang diri.

Setelah lulus SMA, kami menyempatkan diri untuk bertemu, terkadang di akhir pekan. Dia datang ke rumah karena rumah kami berdua dekat, hanya depan dan belakang gang. Dia tidak melewatkan rokok lintingannya. gaya khasnya adalah memakai sarung dan kemeja. Untung saja anaknya ramai, karena aku sendiri cenderung menjadi cewek yang pasif, tidak terlalu suka banyak bicara.

Ia mulai bercerta mengenai kehidupan lucu di pondok pesantren. Sebagai cowok nakal, katanya ia tidak pernah dipanggil oleh pembina pondok, entah karena apa. Beberapa bulan kemudian, ia justru diangkat sebagai seksi keamanan yang bertugas mencatat dan menghukum siapa saja yang melanggar aturan pondok. Ternyata cara pembina pondok itu cukup jitu, ia menjadi malu untuk melanggar aturan pondok seperti meninggalkan sholat jamaah dan sebagainya.

Banyak sekali hal-hal lucu yang ia ceritakan. Entah, ide konyol untuk melakukan hal-hal itu berasal dari siapa. Toh, aku mengenali ia sebagai anak baik-baik yanag rajin dan pendiam saat MTs.
Beberapa hari yang lalu, kami dipertemukan kembali. Sejak SMA dan aku pergi ke Malaysia, bisa diperkirakan empat tahun kami tidak bertemu dan ngobrol. Biasanya, jika aku sedang cuti pulang kampung, ia sedang kuliah di Yogyakarta. Lagipula, aku jarang sekali cuti dalam waktu lama, paling dua minggu.

Jum’at malam, ia datang. Masih tidak lupa membawa rokok dan memakai sarung. Ia duduk di ruang tamu dan aku suguhi kopi hitam kesukaannya. Kami mulai ngobrol banyak hal mengenai apa saja yang ia dapatkan di kampusnya. Tingkah usilnya bersama dosen maupun pengalaman-pengalamannya ketika mengajar anak-anak jalanan di sebuah yayasan sosial.

Pembahasan lalu berubah menjadi lebih serius ketika dia mulai membicarakan tentang hidup,
“pada akhirnya, manusia hanyalah serupa jasad-jasad. Tidak ada label kafir, islam, atheis, syurga maupun neraka di jidat masing-masing orang, karena yang bisa melabeli islam, kafir, syurga dan neraka hanyalah hak Tuhan”, katanya, dan aku menyetujuinya,

“Aku tidak suka kepada siapapun yang terlalu fanatic terhadap keyakinannya, merasa paling benar sehingga menjudge orang lain salah “

Iya, aku mengakui, pada beberapa tahun yang lalu, ketika kehidupanku hanya terkungkung pada sebuah ajaran my life is better than others people, agama yang aku yakini adalah yang paling baik sehingga secara tanpa sadar menyalahkan agama orang lain, aku terlalu fanatic terhadap yang aku yakini. Namun, seiring waktu ketika aku mulai keluar dari kampung halaman, bertemu orang dengan berbagai latar belakang, ada yang Muhammadiyah, Nahdzotul Ulama, LDII, Kristen, Katholik, China bahkan sampai yang atheis, saya mulai berfikir bahwa keyakinan dan kebenaran jalan yang kita lalui adalah apa yang ada di dalam dada kita.

Pada akhirnya, manusia hanya perlu memanusiakan manusia, berbuat baik kepada mereka selayaknya mereka sama dengan kita. Tidak perlu saling merendahkan satu sama lain, karena tujuan dari kita hanya untuk mensejahterakan alam, menjaga alam agar tetap damai dan saling mengasihi.

Lagi-lagi bahwa keyakinan dan urusan syurga dan neraka hanyalah urusan Tuhan. Tugas manusia hanya sekedar menjalankan apa yang Tuhan perintahkan sesuai dengan keyakinannya. Ketika dalam diri seseorang ada Tuhan, maka ia akan melihat orang lain juga ada Tuhan sehingga timbul rasa untuk terus berbuat baik kepada siapapun itu, tanpa melihat apa latar belakangnya.

Ketika kemarin berangkat bareng ke Yogyakarta, kami ngobrol di tengah konsentrasinya menyetir motor, dia menanyaiku tentang, adakah aku punya cowok ? aku hanya menanggapinya dengan tertawa. I don’t know, aku termasuk manusia yang gagal dalam hal ini. aku sering belajar dari kehdupan orang lain, bagaimana menjalani kehidupan romansa, bagaimana untuk berbaur dengan makhluk yang namanya lelaki. Ya, meski bagaimanapun, aku bukanlah cewek yang tidak memiliki perasaan apapun terhadap cowok.

Dan, ia juga tipe manusia yang selalu blak-blakan dalam hal apapun, termasuk saat dia mengejar seseorang yang dia suka. Aku hanya bilang aja sih, jika merasa yakin untuk menjalani masa depan dengannya, perjuangkan dong!

Dia juga mulai berteori lagi. Teori sosiologi. Untungnya sih kita berdua sama-sama orang sosiologi, kalau aku sosiologi umum, sementara ia sosiologi pertanian.

“manusia saat ini kembali ke zaman lampau. Kamu ingat, dulu masing-masing Negara saling bermegahan soal bangunan-bangunan megah, Yunani, fir’aun, hingga candi-candi besar di Indonesia juga dibangun untuk bermegah-megahan dalam segi bangunan. Siapa yang bisa membangun paling bagus, maka dia dianggap hebat. Selanjutnya, manusia memasuki era tekhnologi, siapa saja yang bisa menciptakan tekhnologi canggih, maka dianggap hebat. Sekarang kembali lagi ke zaman dulu, siapa yang memiliki materi lebih selalu diangap sebagai manusia berhasil”

Iya, kau menyetujui itu. Sebagai anak muda yang bekerja di luar negeri, hal yang paling terlihat nyata di depan semua orang adalah seberapa banyak materi yang sudah terkumpul, apa sudah bisa mendirikan rumah sendiri, bisa kuliah, bisa punya tanah dan begitu banyak materi lainnya.
Intinya, aku sangat menyukai ketika ngobrol bersamanya. Selalu ada banyak hal yang baru, teori-teori baru dan selalu ngajak berfikir.

Semoga kekal menjadi sahabat, Kang.


Cemilan Walang Jati dari Nganjuk


Rabu pagi itu kami duduk bersila di dalam aula TBM Mahanai, sebuah TBM yang berada di kecamatan Mojoreto, Kediri. Di TBM sedang tidak ada kegiatan setelah melaksanakan sholat gerhana di mushola tidak jauh dari TBM. Suasana tenang sekali mungkin bisa disebut khusyuk karena masyarakatt Indonesia sedang menghayati kejadian alam yang sangat langka terjadi, yaitu gerhana matahari total.

Itu adalah hari pertama kedatanganku ke Kediri. Kereta api yang membawaku dari Yogyakarta tiba di kekdiri pada jam 01.00 dini hari. Atas bantuan Mbak Anazkia, aku diperkenalkan kepada teman-teman dari TBM Mahanani sehingga mereka menjemputku di stasion pada jam 02.00 dini hari. Mereka baru saja pulang dari pengajian, bahkan sang tuan rumah juga menitipkan buah salak, katanya untuk tamunya yang baru datang dari Yogyakarta. Aduh…tersanjung sekali, di manapun, selalu banyak malaikat-malaikat baik hati dalam wujud makhluk sejenis adam.

Sebelum sampai ke TBM, Mas Agung, Mas Puguh dan Mas Adisti mengajakku untuk makan makanan khas Kediri yang sudah dibuka seawall jam 01.00 dini hari di area pasar belakang kali Brantas, tidak jauh dari stasion. Karena nasi pecelnya tidak ada, maka saya dipesankan nasi Tumpang, yaitu sebuah nasi dengan tekstur lembut, sayuran, kuah tempe serta rempeyek. Mungkin, sebagian orang tidak akan menyukai makanan ini, karena aroma tempenya kurang enak. Bahkan, Mas Agung bilang bahwa Babeh Helmi yang popular di kalangan kompasioner juga enggak suka.

Setelah selesai makan, kami segera ke TBM, menembus jalanan yang lumayan lengang. Ada beberapa anak motor yang masih jalan-jalan pada jam selarut itu. Setelah melewati Universitas Nusantara PGRI berjalan ke depan sedikit kami menemui lampu merah. Sebelum lampu merah ada sebuah gang di sisi kanan, masuk gang kurang lebih 100 meter, disitulah letak TBM Mahanani, yaitu TBM yang dibangun di atas tanah bekas kandang sapi. Mas agung dan kawan-kawannya adalah relawan yang mengelola TBM itu sendiri.

Melihat begitu banyak buku dari sejumlah penulis terkenal Indonesia membuatku kehilangan rasa ngantuk. Padahal di kereta api Cuma terlelap satu jam saja karena susah sekali tidur, takut kebablasan. Ada buku Clara, pipiet Sendja, Dee lestari dan banyak lagi penulis lainnya. aku mengambil satu buku untuk membacanya. Kata mas Agung, saya disarankan untuk segera tidur, mengingat akan banyak sekali kegiatan besok pagi yaitu kegiatan sholat gerhana dan kegiatan latihan seni untuk anak-anak.

Pukul lima pagi saya sudah terbangun dan segera mencari toilet. Setelah berkeliling rumah ternyata enggak ketemu, akhirnya saya pergi ke mushola yang sudah agak sepi, melaksanakan sholat shubuh. Lalu melanjutkan membaca buku lagi sampai pukul 06.30 karena sholat gerhana akan segera dilaksanakan.

Penduduk kampung sangat ramah, aku turut berbaur menyaksikan euphoria sholat gerhana di kampung yang baru aku jejaki beberapa jam. Sholat lalu mendengarkan khotbah dan ditutup dengan jamuan makan soto.

Setelah sholat, ternyata tidak ada kegiatan, saya sendiri memilih untuk ngobrol dengan Mas Agung selagi menunggu Marini, salah satu temanku saat di Malaysia dan berdomisili di Kediri yang berjanji akan menjemputku.

Mas Agung menawari cemilan walang jati yang ia bawa dari kampung halamannya, yaitu Nganjuk. Wah, melihat pertaa sekali walang yang digoreng itu jadi teringat makanan yang dijual di pinggir-pinggir jalan ketika berada di Thailand, Cuma ketoka di Thailan, makanan sejenis serangga ini dijual di atas gerobag begitu saja, dan banyak sekali species serangga yang dijual.

Kata Mas Agung, saat ini sedang musim panen Wlang Jati di kampungnya. Wa;ang jati adalah sejenis belalang yang hidup di dahan-daun pohon jagung maupun ketela yang ditanam di kawasan hutan jati. Saat musim penghujan begini, ia bisa menjadi pendapatan tambahan. Terkadang sekali panen, beberapa orang bisa mendapatkan sampai 80 kg. setiap 1 kg berisi kurang lebih 40 ekor belalang.

Oleh masyarakat Nganjuk kemudian dibudidayakan untuk menjadi makanan, dengan olahan bumbu tertentu, walang jati diolah menjadi cemilan yang cukup digemari. Namun sayang, harga bahan dan harga penjualan masih jauh sekali dari target yang dicapai. Makanan sejenis ini tidak semua orang suka, bahkan anyak yang jijik mungkin, kalaupun membeli paling untuk coba-coba karena penasaran.


Terimakasih Mas Agung dan kawan-kawan sudah mau menampung saya, ya…..

Perempuan part 1


Bus berjalan terseok-seok menyusuri jalan berliku dan mendaki. Melewati lereng kaki bukit diantara gunung sindoro dan sumbing.

Udara masih begitu dingin. Gunung di sebelah kanan dan kiri jalan masih terbungkus oleh kabut. Rumah penduduk hanya terlihat samar-samar apalagi semalam hujan turun begitu deras semenjak maghrib hingga subuh.

Embun masih membasahi kaca jendela. menetes perlahan-lahan di kaca jendela seiring gerakan oleng ke kanan dan kiri bus. Sulastri memegang erat tas rangsel sandangnya. Lalu ia merekatkan jaket untuk mengusir hawa dingin yang menyentuh kulitnya. Niat hati ikut bus besar dengan dua pintu agar cepat sampai ke tujuan justru berakhir dengan badan bus yang ugal-ugalan.

"Apa kamu yakin, Lastri?" , ia kembali teringat dengan percakapan bersama ibunya di pagi hari beberapa minggu yang lalu.

"Yakin, Mbok", jawabnya singkat, sudah tidak ada waktu lagi untuk mengulur-ulur waktu. Perubahan hidupnya harus dimulai dengan cepat. Sudah terlalu lama ia terkukung dengan duka yang mendalam. Perceraian, pelecehan, penyiksaan dan penghinaan harus segera diakhiri meski pengorbananya tidak sedikit.

Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk tetap bertahan dengan keadaan yang menimpanya. Namun, ia bukanlah perempuan yang tidak mengerti beragama. Ia sudah berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankan kehidupan rumah tangganya namun semuanya harus berakhir ketika sang hakim memutuskan perceraian dengan suaminya telah berhasil.

"Anak-anak jangan terlalu dimanja, Buk" pesan Lastri pada ibunya saat ia berkemas. Dua anaknya, Bayu dan Ani berdiri mengamati ibunya yang sedang berkemas. Usia anak-anak masih belum begitu terasa saat ingin ditinggalkan, apalagi selama ini Lastri selalu meninggalkan mereka bersama asuhan sang Nenek.

Matanya berkedip perlahan,

"Mak, nanti belikan tas baru, ya?", Ani mengucapkan kalimat permohonannya, Lasti tersenyum. Menarik lengan tangan anak itu ke dalam dekapannya. Lastri mencium ubun-ubun bocah berumur enam tahun itu dengan penuh kasih sayang.

"Jangan nakal sama Simbok, pagi jangan lupa sholat subuh, siapkan perlengkapan sekolah sendiri dan jangan lupa untuk pergi ke madrasah", pesannya sambil terus mengecup puncak kepala anak gadisnya 

Ia kembali menarik lengan Bayu, bocah lelaki yang berusia sembilan tahun itu ke dekapannya. Memeluk dua buah hatinya yang akan ditinggalkan.

"Mak bekerja untuk mencari uang, jadi abang yang baik  untuk adikmu, belajar yang rajin",

Anak-anaknya mengangguk patuh.

#odop
#februari membara mingguke dua

Tukang Molor

" Kamu itu, Mbak. Asal ada papan datar dan enggak silau pasti Molor" kata seorang teman kepadaku yang selalu terlihat begitu mudah untuk tidur tanpa mengenal tempat.

Saat perjalanan selama satu hari dari Ho Chi Minh ke Siem Reap dengan medan jalanan seperti naik rooler coaster karena jalanan yang tidak bagus serta bus yang sudah reot sementara saya masih bisa tidur dengan nyenyak.

Saat perjalanan menuju melaka, dan berhenti di Masjid Teluk yang memiliki garis pantai berupa batu karang dan saya bisa tidur dengan nyenyak di atas batu karang yang tertutup oleh dedaunan pohon.

Kalau kata Aimi, salah satu anak majikanku bilang bahwa, di mana ada papan datar dan bantal, disitulah habitatku jika dicari di manapun tidak ketemu.

Nah, ternyata sifat mudah tidurku tidak selalu membawa kebaikan. Banyak hal yang terlewatkan ketika tiba-tiba tertidur pada saat orang lain sedang berkegiatan.

Malam ini, aku ikut acara kemah bhakti bersama siswa SMA Rifaiyah, sekolahku dulu. Dilaksanakan di lapangan Tegalsari desa Pesantren, tidak jauh dari kampungku. Sialnya, sekarang lagi musim hujan.

Sejak pagi sudah sumringah, membayangkan akan banyak kegiatan yang bisa diikuti. Hiking ke curug surodipo, mencari jejak lalu berlanjut api unggun pada malam harinya. Langit cerah mendadak berubah selepas adzan dhuhur. Gerimis segera berubah menjadi hujan deras. Dari balik jendela hanya bisa menatap nanar bulir air yang jatuh.

Hujan tidak berhenti sampai sore hari. Tenda anak-anak sudah basah dan terendam air. Anak-anak sibuk menyelamatkan barang bawaanya ke tenda sekretariat, karena hanya itu satu-satunya tempat yang selamat.

Menunggu sampai maghrib, ternyata hujan masih tidak berhenti. Di luar semakin gelap dengan kabut yang semakin lama semakin tebal. Hawa dingin sudah tidak bisa dipertahankan. Aku menyelamatkan diri ke salah satu rumah warga tidak jauh dari lapangan. Membungkus kaki dan badanku dengan selimut yang tersedia. Meski sudah terbiasa dengan udara pegunungan, namun tetap saja, malam itu adalah malam paling dingin yang pernah aku rasakan.

Beberapa menit kemudian, aku sudah terlelap ke alam mimpi. Sementara anak-anak masih bergembira di luar sana menikmati dunia perkemahan meski basah-basahan.

Sampai pukul 22.00, aku terbangun dan mendapati sekelilingku sepi.

" kemana semua orang?", Tanyaku dalam hati ketika bangun tidur dan tidak mendapati seprangpun di ruangan itu.

Di luar sudah terdengar berisik beberapa orang dari lapangan yang terletak di bawah kampung.

" Kalian darimana?", tanyaku kepada salah seorang yang baru saja masuk rumah. Karena tenda benar-benar tidak bisa diselamatkan, akhirnya semua peserta diungsikan ke rumah warga.
" Baru api unggun, Mbak"

Aku melongo lalu melirik jam yang ada di ponsel handphone. Merutuki diri sendiri yang keenakan tidur hingga melewatkan kegiatan paling seru di setiap perkemahan.

"Yah, ketinggalan deh ", ungkapku penih penyesalan.



Lima Jenis Makanan yang Wajib Anda Coba Ketika di Malaysia

Masing-masing negara menawarkan keunikan masing-masing, baik dari segi bahasa, kuliner, bangunan bersejarah maupun tradisi-tradisi yang dilakukan hanya pada musim tertentu. Dari semua itu, setiap pelancong yang akan mengunjungi ke sebuah Negara pasti akan memiliki urutan serta daftar agar semuanya bisa dirasakan serta dinikmati.

Berikut ini akan saya paparkan lima jenis makanan khas yang wajib anda coba ketika berkunjung ke Malaysia.

1.       Roti Canai
Makanan khas yang diperkenalkan oleh para Mamak atau saudagar dari India dan telah memeluk agama islam. Bentuknya seperti kulit martabak yang dibakar. Jika anda mengunjungi restaurant mamak, anda bisa melihat sendiri bagaimana proses menggoreng roti ini. Doh berukuran satu kepalan tangan bayi itu dibanting pada sebuah alas yang datar, dilebarkan hingga seperti kain yang sangat lebar, diputar beberapa kali lalu dilipat hingga menjadi beberapa lipatan baru digoreng di atas mentega. Biasanya makanan ini dihidangkan bersama kuah kari, dalca dan sambal manis.


2.       Nasi Lemak
Nasi lemak sudah melekat erat dengan Malaysia. Bahkan ada rancangan talkshow yang mangangkat judul “Nasi Lemak, Kopi O “ dan disiarkan pada pagi hari. Makanan ini sememangnya adalah makanan yang sering dimakan oleh masyarakat Malaysia pada waktu pagi. Makanannya hampir serupa Nasi Uduk. Terdiri dari Nasi bersantan, ikan teri, sambal manis, telur dan timun. Dibungkus kecil-kecil dan dijual dalam harga RM 1.50. ini adalah makanan paling murah di Malaysia.
nasi lemak



3.       Nasi Kerabu
Ini adalah makanan Khas dari Negeri Kelantan, salah sebuah Negeri di mana Manohara Odelia Pinot pernah tinggal sebagai menantu Sultan. Makanan ini tidak banyak dijual kecuali oleh pemilik restaurant yang menjual memang berasal dari Kelantan. Cara memasaknya agak rumit namun rasanya memang sangat enak. Terdiri dari Nasi berwarna kuning atau biru, Serunding ikan, Sambal tumis, ulam-ulaman, daging bakar serta ikan celup tepung.
nasi kerabu


4.       Laksa
Laksa adalah sejenis soup dengan kuah ikan. Makanan ini berasal dari Negeri Kedah, salah sebuah provinsi di bagian Utara Malaysia. Di Malaysia, makanan ini sering dijual oleh pedagang-pedagang Francise yang menjual dagangannya menggunakan mobil Box di pinggir-pinggir jalan. Rasanya sangat enak dengan kuah santan pekat serta aroma daun kesum dan kantan yang sangat khas. Terdiri dari mie laksa beras, sayur-sayuran mentah, telur dan kuah ikan kembung.
laksa



5.       Mie Kuah

Makanan ini lebih dikenal berasal dari johor Bharu, salah satu provinsi yang berdekatan dengan Singapura. Jika anda jalan-jalan ke Johor Bharu, jangan lupa untuk singgah ke ZZ mie kuah,ia adalah sebuah warung makan lesehan yang sangat terkenal dengan Mie Kuah paling enak. Rasanya seperti mie ayam hanya berbeda pada penyajian kuahnya. Menggunakan bahan dasar daging, campuran ebi, rempah kari, ubi talas serta cabe kering yang sduah di blender. Dimakan bersama tepung krispi serta taburan sayuran segar menjadikan Mie kuah ini makanan yang cukup digemari.

#ODOP
#Day 15